Monday, December 12, 2011

Guilty As Charged

Siang itu aku seperti berada di dimensi lain. Otak dan tanganku tetap berada di mana mereka seharusnya berada tetapi ingatan dan jiwaku seolah berada di tempat yang paralel. Aku teringat saat mama mengalami depresi parah dan dibawa ke rumah sakit jiwa. Di sana kami berbicara dengan dokter yang bertugas (yang ternyata adalah satu-satunya dokter spesialis jiwa di kota kami). Dia tidak menganjurkan mama untuk dirawat inap, sebaliknya ia memberikan nama sebuah rumah singgah untuk orang-orang yang mengalami problem seperti mama.

Kami meninggalkan mama di tempat itu. Meskipun papa kemudian tidak bisa tidur dan mengirimiku sms malam-malam tentang duka jiwanya.

Meski secara fisik aku berada di dekat mama beberapa hari itu tetapi ketakutanku akan hari esok mengirimku pergi ke tempat-tempat lain. Aku takut meninggalkan pekerjaan terlalu lama dan kehilangan pekerjaan. Aku takut bulan depannya aku tidak punya uang. Aku takut tidak mampu membayar cicilan dan bank akan menyita semua harta kami. Aku takut keluarga kecilku tidak bisa makan. Aku takut menanggung lebih dari yang aku mampu dan kehilangan kewarasanku.

Tuhan berusaha masuk tetapi aku tidak mengizinkan. Sebaliknya aku malahan membuat rancangan ini dan itu. Aku berkata pada papa sebaiknya tanah di samping rumah dijual untuk membiayai pengobatan. Aku sibuk mencari koneksi untuk mendapatkan orang yang bisa menjaga mama secara full time.

Dan di luar logika manusia, mama sembuh. Tanpa bantuan obat-obatan. Bahkan dia berusaha sekuat tenaga melawan segala macam bentuk pengobatan yang disodorkan. Obat penenang yang sudah diberikan disembunyikan di bawah lidah dan dibuang. Hal-hal seperti itu. Seminggu berada di tempat itu, mama pulang ke rumah. Dan tiga bulan sesudahnya, kondisi mama sudah jauh membaik. Itu dijalaninya tanpa aku karena aku sudah kembali ke kota kecilku.

Bagiku semua yang terjadi itu di luar kemampuan berpikirku. Bahkan aku kemudian mundur sejauh-jauhnya dari hidup mama. Lebih karena insting, bukan kesengajaan. Sampai akhirnya siang ini aku mengerti apa pembatas yang menghalangi itu. Itu adalah rasa bersalah. Rasa bersalah karena meninggalkan mama di belakang jeruji besi rumah singgah. Rasa bersalah aku tidak sanggup menopang tubuh ibuku yang tersungkur di kamar mandi saat buang air. Rasa bersalah karena aku meninggalkan papa kesepian saat kekasih hatinya dipisahkan darinya. Rasa bersalah karena tidak mengerti apa yang ada di balik ketenangan wajah adikku ketika melakoni semua kesulitan ini dari hari ke hari tanpa banyak berpikir atau mengeluh.

Aku marah pada diriku atas ketidakmampuanku mencari solusi atas masalah saat itu. Aku. Aku yang adalah pemecah masalah. Yang menjadi tumpuan orang lain di saat ada hal yang perlu diperbaiki. Yang menjadi andalan orang-orang di sekelilingku, malahan tidak bisa memperbaiki keadaan ibuku sendiri.

Sudah 2 tahun berlalu tapi kenangannya masih begitu segar.

Paiton, 13 Desember 2011

Monday, December 5, 2011

Manusia Biasa

Yang jelata canggung berada di antara yang aristokrat, sekaku kelinci melompat di lintasan ular. Yang di atas awan waspada saat berada di atas tanah, tidak yakin persinggungan itu akan membawa angin semilir atau ledakan petir. Satu selalu waspada terhadap yang lain. Ketegangan yang hanya bisa dilenturkan oleh kedekatan dan waktu.

Bukankah kita semua manusia biasa saja?

Paiton, 6 Desember 2011
*reading-Madre

Tuesday, March 22, 2011

Di Luar Doa

Terima kasih, Tuhan. Engkau sungguh baik.

Ketika aku mencarimu dalam doa dan meditasi, aku tidak bertemu dengan-Mu dalam situasi yang kumau. Mengapa menyapa-Mu terasa seperti bekerja? Tidak ada dialog hangat yang kita lakukan ketika kita asyik bercakap-cakap. Yang bisa kulontarkan hanya sisa-sisa hapalan dari buku, atau ingatan samar dari doa yang diucapkan bibir orang lain. Oh hati, mengapa kau tidak berdenyut?

Lalu hari ini Kau sapa aku. Lewat sehalaman tulisan temanku yang satu, lalu yang satunya lagi. Lalu Kau kirim imaji-imaji indah yang menggerakkan angan khayalku. Tuhan, aku ekstasi! Dan tiba-tiba saja aku ingin berseru-seru, menangis dan tertawa bersama-Mu. Bukan karena kesedihan atau kegembiraan, tetapi karena kini aku ingat mengapa aku rindu pada-Mu.

Izinkan aku mencintai-Mu dengan jari-jariku.

Paiton, 23 Maret 2011

Menulis Lagi

Sudah cukup lama aku tidak menulis dengan "hati". Meskipun tetap rajin blogging, aku lebih banyak menulis artikel-artikel yang berkaitan dengan kegiatan kuliner. Selain menyalurkan kreativitas pribadi, aktivitas tersebut ternyata membawa manfaat ekonomis bagi orang banyak. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang yang mengirim email dan meminta izin untuk meminjam resep atau desain kue yang aku  buat.

Hari ini kerinduan untuk bercerita itu menyeruak kembali. Awal mulanya karena menemukan tulisan teman lama di sini. Bahwa menulis itu adalah habitual action. Bahasa zaman dulunya mungkin 'alah bisa karena biasa.'

Dulu aku biasa menulis di Friendster. Sejak Friendster kalah pamor dengan Facebook, keinginan untuk membuka Friendster juga memudar. Facebook memberi ruang untuk kita menulis, tetapi jujur saja, lebih asyik membacai status, mengunggah foto dan bermain Scrabble daripada menulis. Kesimpulanku, untuk urusan bercerita tetap lebih nyaman menggunakan fasilitas blogging, entah yang disediakan Wordpress, Blogger atau aplikasi lain baik yang gratis maupun berbayar.

Sampai hari ini aku belum melepaskan impianku untuk menjadi seorang penulis. Penulis yang sebenar-benarnya, bukan penulis dua-tiga paragraf. Penulis yang membuat pembacanya tidak bisa meletakkan buku hingga halamana terakhir, sebelum akhirnya menghembuskan nafas lega atau kecewa. Penulis yang meletakkan sebatang lilin di ujung lorong yang gelap, yang memberi sepercik cahaya bagi mereka yang mencarinya. Penulis yang disambangi ilham sehingga mampu menulis seindah Kitab Mazmur atau Pengkotbah.

Tanpa  aku sengaja, penulis-penulis favoritku kebanyakan adalah perempuan. Mulai dari NH Dini yang gemar menulis rinci dan gamblang tanpa tedeng aling-aling, Elizabeth Gilbert yang mencari Tuhan dengan cara yang tidak biasa, Dewi Dee Lestari yang suka permainan pikiran dan sains, dan Ayu Utami yang tidak segan menggambarkan seks dari kacamata perempuan. Aku juga menikmati tulisan rekan-rekan blogger seperti Riana Ambarsari, Hanna Naniek, Dian Mertani-Akhtar, dan banyak lagi.

Catatan: saking tergila-gilanya aku dengan tulisan Riana, sampai-sampai bukunya aku order online. Nggak cukup satu, tapi dua. Nggak cuma itu, harus dikasih tandatangan. Karena aku yakin suatu hari kamu akan melayang jauh ke angkasa, Cantik.

Bukan karena aku feminis tetapi aku suka perempuan yang punya karakter kuat, yang tetap rajin menenun asa bahkan ketika rutinitas hidup memudarkan aura. Lagipula, bukankah perempuan itu memang indah?

Maka ... izinkan aku menulis lagi. Berbagi hati denganmu. Maukah kau menerimaku kembali?

Paiton, 23 Maret 2011