Siang itu aku seperti berada di dimensi lain. Otak dan tanganku tetap berada di mana mereka seharusnya berada tetapi ingatan dan jiwaku seolah berada di tempat yang paralel. Aku teringat saat mama mengalami depresi parah dan dibawa ke rumah sakit jiwa. Di sana kami berbicara dengan dokter yang bertugas (yang ternyata adalah satu-satunya dokter spesialis jiwa di kota kami). Dia tidak menganjurkan mama untuk dirawat inap, sebaliknya ia memberikan nama sebuah rumah singgah untuk orang-orang yang mengalami problem seperti mama.
Kami meninggalkan mama di tempat itu. Meskipun papa kemudian tidak bisa tidur dan mengirimiku sms malam-malam tentang duka jiwanya.
Meski secara fisik aku berada di dekat mama beberapa hari itu tetapi ketakutanku akan hari esok mengirimku pergi ke tempat-tempat lain. Aku takut meninggalkan pekerjaan terlalu lama dan kehilangan pekerjaan. Aku takut bulan depannya aku tidak punya uang. Aku takut tidak mampu membayar cicilan dan bank akan menyita semua harta kami. Aku takut keluarga kecilku tidak bisa makan. Aku takut menanggung lebih dari yang aku mampu dan kehilangan kewarasanku.
Tuhan berusaha masuk tetapi aku tidak mengizinkan. Sebaliknya aku malahan membuat rancangan ini dan itu. Aku berkata pada papa sebaiknya tanah di samping rumah dijual untuk membiayai pengobatan. Aku sibuk mencari koneksi untuk mendapatkan orang yang bisa menjaga mama secara full time.
Dan di luar logika manusia, mama sembuh. Tanpa bantuan obat-obatan. Bahkan dia berusaha sekuat tenaga melawan segala macam bentuk pengobatan yang disodorkan. Obat penenang yang sudah diberikan disembunyikan di bawah lidah dan dibuang. Hal-hal seperti itu. Seminggu berada di tempat itu, mama pulang ke rumah. Dan tiga bulan sesudahnya, kondisi mama sudah jauh membaik. Itu dijalaninya tanpa aku karena aku sudah kembali ke kota kecilku.
Bagiku semua yang terjadi itu di luar kemampuan berpikirku. Bahkan aku kemudian mundur sejauh-jauhnya dari hidup mama. Lebih karena insting, bukan kesengajaan. Sampai akhirnya siang ini aku mengerti apa pembatas yang menghalangi itu. Itu adalah rasa bersalah. Rasa bersalah karena meninggalkan mama di belakang jeruji besi rumah singgah. Rasa bersalah aku tidak sanggup menopang tubuh ibuku yang tersungkur di kamar mandi saat buang air. Rasa bersalah karena aku meninggalkan papa kesepian saat kekasih hatinya dipisahkan darinya. Rasa bersalah karena tidak mengerti apa yang ada di balik ketenangan wajah adikku ketika melakoni semua kesulitan ini dari hari ke hari tanpa banyak berpikir atau mengeluh.
Aku marah pada diriku atas ketidakmampuanku mencari solusi atas masalah saat itu. Aku. Aku yang adalah pemecah masalah. Yang menjadi tumpuan orang lain di saat ada hal yang perlu diperbaiki. Yang menjadi andalan orang-orang di sekelilingku, malahan tidak bisa memperbaiki keadaan ibuku sendiri.
Sudah 2 tahun berlalu tapi kenangannya masih begitu segar.
Paiton, 13 Desember 2011
No comments:
Post a Comment