Terbangun pagi-pagi karena kebelet buang air kecil. Ketika memasuki kamar mandi, pandanganku tertuju pada satu pak pregnancy test pack yang aku beli sehari sebelumnya. Jadi ingat kalau aku belum haid selama 5-6 minggu. Yang aku ingat, haid terakhirku adalah di tanggal 3 November 2017 sementara hari itu sudah tanggal 8 Januari 2018.
Setelah menampung urine di sebuah wadah, kucelupkan alat tes ke cairan urine. Entah sudah puluh kali hal ini kulakukan dan selama 12 tahun lebih stripnya selalu hanya 1. Pelan-pelan cairan tubuhku itu merambat naik, memerahkan strip penanda. Strip ke-1 - oke. Cairan masih naik lagi, terus, terus, lalu memunculkan strip ke-2. Merah, namun samar.
Jantungku berhenti berdenyut selama sepersekian detik. Mungkinkah?
Detik demi detik berlalu dan strip ke-2 kian memerah. Cukup untuk meyakinkan aku bahwa kadar hCG (human chorionic gonadotropin) dalam tubuhku meningkat. Indikasi awal kehamilan.
Sejenak aku tercenung, menelaah perasaanku sendiri. Apa yang aku rasakan? Tahun ini usiaku 43 tahun, mempunyai seorang anak gadis yang sudah remaja, dan sedang memasuki babak baru dalam urusan karir. Am I ready? Perlahan-lahan gelombang hangat melanda tubuhku dan aku tersenyum. I am happy.
Aku teringat dua peristiwa dalam hidupku yang melibatkan almarhum bapak angkatku, Bapak Sihotang. Tahun 2014, aku menjalani upacara menjadi anak perempuan angkat sebuah keluarga Batak dan dilanjutkan dengan upacara kawin adat. Saat itu aku sudah berumur 39 tahun. Bapak Sihotang memberi berbagai wejangan dan doa, antara lain supaya kami bisa memperoleh momongan lagi. "Jangan berputus asa," kata beliau. Saat itu aku tersenyum dalam hati. Sudah lama aku melupakan mimpi untuk punya anak lagi. Tidak tebersit keinginan untuk menjalani program kehamilan dengan dokter kandungan. Aku sudah cukup berbahagia dengan satu anak.
Peristiwa kedua baru-baru saja terjadi. Tanggal 31 Desember 2017 kami mudik ke Pematang Siantar dan bertemu dengan keluarga angkatku lagi. Karena ibu mertua membawa daging, akhirnya ibu angkatku memanggil kerabat keluarga Sihotang untuk menyambut. Ayah angkatku sudah meninggal setahun yang lalu, jadi kali ini kami hanya bertemu dengan saudara-saudara angkatku yang laki-laki dan istri-istri mereka. Ada juga satu orang tetua, Bapak Hasugian, yang kerap menjadi raja parhata (juru bicara / pidato) dalam acara-acara keluarga Sihotang. Kali itu pun, Oppung kami Hasugian juga mendoakan agar kami mendapatkan anak lagi.
Aku sama sekali tidak menyangka, hanya seminggu setelah pulang dari kampung, hasil tesku akan positif.
Aku berjalan dari kamar mandi ke kamar tidur. Bapaknya Naomi masih terlelap. Tadinya mau aku biarkan, tapi karena dorongan perasaan yang sudah membuncah, aku bangunkan suamiku. Dalam keadaan dia masih separuh bermimpi, kukabarkan berita besar ini.
"Pa. Kayaknya aku hamil."
Momen selanjutnya tidak kuingat dengan jelas. Antara terdiam, gembira, cemas. Kumaklumi perasaan suamiku. Meskipun kami sering bercanda bagaimana jika suatu hari aku hamil lagi, dia tidak pernah benar-benar berpikir hal itu akan pernah terjadi. Bahkan sehari sebelum itu, suamiku masih bertanya 'apa yang akan kamu lakukan kalau aku pergi / meninggal.' Pertanyaan yang langsung kutepis dengan kata-kata 'terlalu jauh pemikiranmu.'
Pagi itu juga, ketika aku sudah berada di kantor, aku menghubungi paramedis perusahaan, meminta beliau membuatkan janji untuk tes lab di pagi berikutnya. Tanggal 9 Januari 2018 petugas datang ke rumah, mengambil sampel urine dan darah (untuk cek Hg, karena Hg-ku sempat drop). Siang harinya hasilnya sudah keluar dan menguatkan dugaan awal kami. Aku positif hamil.
I know I have high risks. But I am ready.
Paiton, 13 Januari 2018
No comments:
Post a Comment