Tuesday, March 22, 2011

Di Luar Doa

Terima kasih, Tuhan. Engkau sungguh baik.

Ketika aku mencarimu dalam doa dan meditasi, aku tidak bertemu dengan-Mu dalam situasi yang kumau. Mengapa menyapa-Mu terasa seperti bekerja? Tidak ada dialog hangat yang kita lakukan ketika kita asyik bercakap-cakap. Yang bisa kulontarkan hanya sisa-sisa hapalan dari buku, atau ingatan samar dari doa yang diucapkan bibir orang lain. Oh hati, mengapa kau tidak berdenyut?

Lalu hari ini Kau sapa aku. Lewat sehalaman tulisan temanku yang satu, lalu yang satunya lagi. Lalu Kau kirim imaji-imaji indah yang menggerakkan angan khayalku. Tuhan, aku ekstasi! Dan tiba-tiba saja aku ingin berseru-seru, menangis dan tertawa bersama-Mu. Bukan karena kesedihan atau kegembiraan, tetapi karena kini aku ingat mengapa aku rindu pada-Mu.

Izinkan aku mencintai-Mu dengan jari-jariku.

Paiton, 23 Maret 2011

Menulis Lagi

Sudah cukup lama aku tidak menulis dengan "hati". Meskipun tetap rajin blogging, aku lebih banyak menulis artikel-artikel yang berkaitan dengan kegiatan kuliner. Selain menyalurkan kreativitas pribadi, aktivitas tersebut ternyata membawa manfaat ekonomis bagi orang banyak. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang yang mengirim email dan meminta izin untuk meminjam resep atau desain kue yang aku  buat.

Hari ini kerinduan untuk bercerita itu menyeruak kembali. Awal mulanya karena menemukan tulisan teman lama di sini. Bahwa menulis itu adalah habitual action. Bahasa zaman dulunya mungkin 'alah bisa karena biasa.'

Dulu aku biasa menulis di Friendster. Sejak Friendster kalah pamor dengan Facebook, keinginan untuk membuka Friendster juga memudar. Facebook memberi ruang untuk kita menulis, tetapi jujur saja, lebih asyik membacai status, mengunggah foto dan bermain Scrabble daripada menulis. Kesimpulanku, untuk urusan bercerita tetap lebih nyaman menggunakan fasilitas blogging, entah yang disediakan Wordpress, Blogger atau aplikasi lain baik yang gratis maupun berbayar.

Sampai hari ini aku belum melepaskan impianku untuk menjadi seorang penulis. Penulis yang sebenar-benarnya, bukan penulis dua-tiga paragraf. Penulis yang membuat pembacanya tidak bisa meletakkan buku hingga halamana terakhir, sebelum akhirnya menghembuskan nafas lega atau kecewa. Penulis yang meletakkan sebatang lilin di ujung lorong yang gelap, yang memberi sepercik cahaya bagi mereka yang mencarinya. Penulis yang disambangi ilham sehingga mampu menulis seindah Kitab Mazmur atau Pengkotbah.

Tanpa  aku sengaja, penulis-penulis favoritku kebanyakan adalah perempuan. Mulai dari NH Dini yang gemar menulis rinci dan gamblang tanpa tedeng aling-aling, Elizabeth Gilbert yang mencari Tuhan dengan cara yang tidak biasa, Dewi Dee Lestari yang suka permainan pikiran dan sains, dan Ayu Utami yang tidak segan menggambarkan seks dari kacamata perempuan. Aku juga menikmati tulisan rekan-rekan blogger seperti Riana Ambarsari, Hanna Naniek, Dian Mertani-Akhtar, dan banyak lagi.

Catatan: saking tergila-gilanya aku dengan tulisan Riana, sampai-sampai bukunya aku order online. Nggak cukup satu, tapi dua. Nggak cuma itu, harus dikasih tandatangan. Karena aku yakin suatu hari kamu akan melayang jauh ke angkasa, Cantik.

Bukan karena aku feminis tetapi aku suka perempuan yang punya karakter kuat, yang tetap rajin menenun asa bahkan ketika rutinitas hidup memudarkan aura. Lagipula, bukankah perempuan itu memang indah?

Maka ... izinkan aku menulis lagi. Berbagi hati denganmu. Maukah kau menerimaku kembali?

Paiton, 23 Maret 2011